Mukjizat Nabi Muhammad SAW yang melebihi 300 mukjizat

Penulis : Nurul Fatihah Shahronizam Masa : 21:37 Komen : 0 Tag :

Assalammu’alaikum wbt kepada sidang pembaca sekalian. Penulis berasa PERLU untuk kita sebagai umat Muhammad SAW mengetahui dengan terperinci akan kelebihan-kelebihan dan mukjizat Nabi Muhammad SAW. Amat kasihan kepada umat Islam sekarang lebih-lebih lagi apabila dipersoalkan akan mukjizat Nabi SAW yang kita sayangi, yang mereka tahu hanyalah membelah bulan, Al-Qur’an dan awan menaungi baginda semasa kecil. Ini sahaja yang kita tahu. Di sini penulis berasa tertampil untuk menceritakan mukjizat-mukjizat Muhammad SAW yang tak pernah kita ketahui melainkan meneliti Hadith2 yang sahih merujuk  http://aldiena.qweinhorn.co.cc/. Amatlah sedih, ada pemuka-pemuka politik di negara kita yang menyatakan Nabi Muhammad SAW diberikan kelebihan mukjizat ketika baginda di angkat menjadi Nabi & Rasul, dan katanya lagi baginda sama dengan budak-budak biasa sebelum baginda menjadi Nabi & Rasul. Sedangkan penyataan itu tidak diteliti dengan baik yang mana boleh mengakibatkan fitnah.
Mukjizat Muhammad SAW adalah kemampuan luar biasa yang dimiliki Nabi Muhammad SAW untuk membuktikan kenabiannya. Dalam Islam, mukjizat terbesar Muhammad SAW adalah Al-Qur’an. Selain itu, Muhammad SAW juga diyakini pernah membelah bulan pada masa penyebaran Islam di Mekkah dan melakukan Isra dan Mi’raj dalam tidak sampai satu hari. Kemampuan lain yang dimiliki Muhammad SAW adalah kecerdasannya mengenai ilmu ketuhanan. Hal ini tidak sebanding dengan dirinya yang ummi atau buta huruf. Walau begitu, umat Islam meyakini bahwa setiap hal dalam kehidupan Muhammad SAW adalah mukjizat. Hal itu terbukti dari banyaknya kumpulan hadits yang diceritakan para sahabat mengenai berbagai mukjizat Muhammad SAW.
Terkadang ada muslim & kufar yg tak percaya dengan mukjizat Rasulullah Muhammad SAW yang dengan seizin ALLAh boleh dapat melakukan:
Mengerti bahasa binatang seperti Nabi Sulaiman
Memerintah bumi & pohon seperti Nabi Musa
Diberi mukjizat seperti Nabi Ibrahim
Anak yang meninggal bangkit hidup kembali… (mirip mukjizat Nabi Isa AS)
Menyembuhkan orang buta
Menyembuhkan orang lumpuh
Menyembuhkan orang cacat sejak lahir
Mengetahui isi hati
Memberi makan beribu orang dengan seketul makanan
Memberi minum beribu orang dengan sikit air
Mengeluarkan air ditengah padang gurun
Mengeluarkan air dari sela jari untuk wudhu beribu orang
Menyembuhkan putri raja yg cacat tanpa tangan & kaki
Membelah bulan menjadi 2 bagian
Dan ini telah dibuktikan oleh para astronot yg menghabiskan dana ratusan juta dollar
Mengetahui apa yang telah terjadi
Mengetahui apa yang sedang terjadi
Mengetahui apa yang akan terjadi
Melihat yg dibelakang punggungnya seperti dari depan
Musuh bergetar tak mampu membunuh
Bumi memakan orang yang hendak membunuh beliau
Musuh tak dapat melihat beliau
Tidak dapat dibunuh musuh
Rombongan berkuda para sahabat boleh dapat menyeberang laut dengan berkuda saat mengejar musuh yang lari dengan kapal layar,
atau pun mukjizat lainnya, ini kerana ia belum pernah membaca hadist shohih Bukhori & shohih Muslim atu Shohih Ahmad yg lengkap & bukan sekedar ringkasan hadist.
Sebelum masa kenabian
Tradisi Islam banyak menceritakan bahwa pada masa kelahiran dan masa sebelum kenabian, Muhammad SAW sudah diliputi banyak mukjizat. Muhammad SAW dilahirkan pada tanggal 22 April 570 di kalangan keluarga bangsawan Arab, Bani Hasyim. Ibnu Hisyam, dalam Sirah Nabawiyah menuliskan Muhammad SAW memperoleh namanya dari mimpi ibunya, Aminah binti Wahab ketika mengandungnya. Aminah memperoleh mimpi bahwa ia akan melahirkan “pemimpin umat”. Mimpi itu juga yang konon menyuruhnya mengucapkan, “Aku meletakkan dirinya dalam lindungan Yang Maha Esa dari segala kejahatan dan pendengki.” Kisah Aminah dan Abdul Muthalib juga menunjukkan bahwa sejak kecil Muhammad SAW adalah anak yang luar biasa. Berikut ini adalah mukjizat yang terjadi pada saat kelahiran dan masa kecil Muhammad SAW:
* Aminah binti Wahab, ibu Muhammad SAW pada saat mengandung Muhammad SAW tidak pernah merasa lelah seperti wanita pada umumnya.
* Saat melahirkan Muhammad SAW, Aminah binti Wahab tidak merasa sakit seperti wanita sewajarnya.
* Muhammad SAW dilahirkan dalam keadaan sudah berkhitan.
* Pada usia 5 bulan ia sudah pandai berjalan, usia 9 bulan ia sudah mampu berbicara dan pada usia 2 tahun ia sudah bisa dilepas bersama anak-anak Halimah yang lain untuk menggembala kambing.
* Halimah binti Abi-Dhua’ib, ibu susuan Muhammad SAW dapat menyusui kembali setelah sebelumnya ia dinyatakan telah kering susunya. Halimah dan suaminya pada awalnya menolak Muhammad SAW karena yatim. Namun, karena alasan ia tidak ingin dicemooh Bani Sa’d, ia menerima Muhammad SAW. Selama dengan Halimah, Muhammad SAW hidup nomaden bersama Bani Sa’d di gurun Arab selama empat tahun.
* Abdul Muthalib, kakek Muhammad SAW menuturkan bahwa berhala yang ada di Ka’bah tiba-tiba terjatuh dalam keadaan bersujud saat kelahiran Muhammad SAW. Ia juga menuturkan bahwa ia mendengar dinding Ka’bah berbicara, “Nabi yang dipilih telah lahir, yang akan menghancurkan orang-orang kafir, dan membersihkan dariku dari beberapa patung berhala ini, kemudian memerintahkan untuknya kepada Zat Yang Merajai Seluruh Alam Ini.”
* Dikisahkan saat Muhammad SAW berusia empat tahun, ia pernah dibedah perutnya oleh dua orang berbaju putih yang terakhir diketahui sebagai malaikat. Peristiwa itu terjadi di ketika Muhammad SAW sedang bermain dengan anak-anak Bani Sa’d dari suku Badui. Setelah kejadian itu, Muhammad SAW dikembalikan oleh Halimah kepada Aminah. Sirah Nabawiyyah, memberikan gambaran terperinci bahwa kedua orang itu, “membelah dadanya, mengambil jantungnya, dan membukanya untuk mengelurkan darah kotor darinya. Lalu mereka mencuci jantung dan dadanya dengan salju.” Peristiwa seperti itu juga terulang 50 tahun kemudian saat Muhammad SAW diisra’kan ke Yerusalem lalu ke Sidratul Muntaha dari Mekkah.
* Dikisahkan pula pada masa kecil Muhammad SAW, ia telah dibimbing oleh Allah. Hal itu mulai tampak setelah ibu dan kakeknya meninggal. Dikisahkan bahwa Muhammad SAW pernah diajak untuk menghadiri pesta dalam tradisi Jahiliyah, namun dalam perjalanan ke pesta ia merasa lelah dan tidur di jalan sehingga ia tidak mengikuti pesta tersebut.
* Pendeta Bahira menuturkan bahwa ia melihat tanda-tanda kenabian pada diri Muhammad SAW. Muhammad SAW saat itu berusia 12 tahun sedang beristirahat di wilayah Bushra dari perjalannya untuk berdagang bersama Abu Thalib ke Syiria. Pendeta Bahira menceritakan bahwa kedatangan Muhammad SAW saat itu diiringi dengan gumpalan awan yang menutupinya dari cahaya matahari. Ia juga sempat berdialog dengan Muhammad SAW dan menyaksikan adanya sebuah “stempel kenabian” (tanda kenabian) di kulit punggungnya.
* Mukjizat lain adalah Muhammad SAW pernah memperpendek perjalanan. Kisah ini terjadi saat pulang dari Syiria. Muhammad SAW diperintahkan Maisarah membawakan suratnya kepada Khadijah saat perjalanan masih 7 hari dari Mekkah. Namun, Muhammad SAW sudah sampai di rumah Khadijah tidak sampai satu hari. Dalam kitab as-Sab’iyyatun fi Mawadhil Bariyyat, Allah memerintahkan pada malaikat Jibril, Mikail, dan mendung untuk membantu Muhammad SAW. Jibril diperintahkan untuk melipat tanah yang dilalui unta Muhammad SAW dan menjaga sisi kanannya sedangkan Mikail diperintahkan menjaga di sisi kirinya dan mendung diperintahkan menaungi Muhammad SAW.
Pada Masa Kenabian
Kharisma
* Tatapan mata yang menggetarkan Ghaurats bin Harits, yaitu seorang musuh yang sedang menghunus pedang kearah leher Muhammad SAW.
* Menjadikan tangan Abu Jahal kaku.
* Jin yang bernama Muhayr bin Habbar membantu dakwah Muhammad SAW, kemudian jin itu diganti namanya menjadi Abdullah bin Abhar.
Menghilang dan menidurkan musuh
* Menghilang saat akan dibunuh oleh utusan Amr bin at-Thufail dan Ibad bin Qays utusan dari Bani Amr pada tahun 9 Hijriah atau Tahun Utusan
* Menghilang saat akan dilempari batu oleh Ummu Jamil, bibi Muhammad SAW ketika ia duduk di sekitar Ka’bah dengan Abu Bakar.[17]
* Menghilang saat akan dibunuh Abu Jahal dimana saat itu ia sedang shalat.
* Menidurkan 10 pemuda Mekkah yang berencana membunuhnya dengan taburan pasir.
Binatang, tumbuhan, alam dan benda mati
* Seekor srigala berbicara kepada Muhammad SAW .
* Berbicara dengan unta yang lari dari pemiliknya yang menyebabkan masyarakatnya meninggalkan shalat Isya’.
* Berbicara dengan unta pembawa hadiah raja Habib bin Malik untuk membuktikan bahwa hadiah tersebut bukan untuk Abu Jahal melainkan untuk Muhammad SAW.
* Mengusap kantung susu seekor kambing untuk mengeluarkan susunya yang telah habis.
* Dua Sahabat Nabi SAW dibimbing oleh cahaya.
* Mimbar menangis setelah mendengar bacaan ayat-ayat Allah.
* Pohon kurma dapat berbuah dengan seketika.
* Batang pohon kurma meratap kepada Muhammad SAW .
* Pohon menjadi saksi dan dibuat berbicara kepada Muhammad SAW.
* Berhala-berhala runtuh dengan hanya ditunjuk oleh Muhammad SAW.
* Mendatangkan hujan dan meredakan banjir saat musim kemarau tahun 6 Hijriah di Madinah yang saat itu mengalami kekeringan.
* Berbicara dengan gunung untuk mengelurkan air bagi Uqa’il bin Abi Thalib yang kehausan.
* Berbicara dengan gilingan tepung Fatimah yang takut dijadikan batu-batu neraka.
* Merubah emas hadiah raja Habib bin Malik menjadi pasir di gunung Abi Qubaisy.
* Memerintahkan gilingan tepung untuk berputar dengan sendirinya.
* Tubuh Muhammad SAW memancarkan petir ketika hendak di bunuh oleh Syaibah bin ‘Utsman pda Perang Hunain.

Makanan dan minuman
* Makanan yang di makan oleh Muhammad SAW mengagungkan Nama Allah.
* Makanan sedikit yang bisa dimakan sebanyak 800 orang pada Perang Khandaq.
* Roti sedikit cukup untuk orang banyak.
* Sepotong hati kambing cukup untuk 130 orang.
* Makanan yang dimakan tidak berkurang justru bertambah tiga kali lipat.
* Menjadikan beras merah sebanyak setengah kwintal yang diberikan kepada orang Badui Arab tetap utuh tidak berkurang selama berhari-hari.
* Menjadikan minyak samin Ummu Malik tetap utuh tidak berkurang walau telah diberikan kepada Muhammad SAW.
* Air memancar dari sela-sela jari. Kemudian air itu untuk berwudhu 300 orang sahabat hanya dengan semangkuk air.
* Susu dan kencing unta bisa menyembuhkan penyakit atas izin Allah.
Mendo’akan dan menyembuhkan
* Menyembuhkan betis Ibnu al-Hakam yang terputus pada Perang Badar, kemudian Muhammad SAW meniupnya, lalu sembuh seketika tanpa meresakan sakit sedikit pun.
* Mata Qatadah terluka pada Perang Uhud, sehingga jatuh dari kelopaknya, kemudian oleh Muhammad SAW mata tersebut dimasukkan kembali dan menjadi lebih indah dari sebelumnya.
* Mendo’akan untuk menumbuhkan gigi salah seorang sahabatnya bernama Sabiqah yang rontok sewaktu perang.
* Mendo’akan Anas bin Malik dengan banyak harta dan anak.
* Menyembuhkan daya ingat Abu Hurairah yang pelupa.
* Menyembuhkan penyakit mata Ali bin Abi Thalib saat pemilihan pembawa bendera pemimpin dalam perang Khaibar.
* Menyembuhkan luka gigitan ular yang diderita Abu Bakar dengan ludahnya saat bersembunyi di Gua Tsur dari pengejaran penduduk Mekah.
* Menyembuhkan tangan wanita yang lumpuh dengan tongkatnya.
* Menyambung tangan orang Badui yang tangannya putus setelah dipotong oleh dirinya sendiri setelah menampar Muhammad SAW.
* Mendoakan supaya Kerajaan Kisra hancur, kemudian do’a tersebut dikabulkan.
* Mendoakan Ibnu Abbas menjadi orang yang faqih dalam agama Islam.
Hal ghaib dan ru’yah
* Mengetahui siksa kubur dua orang dalam makam yang dilewatinya karena dua orang tersebut selalu shalat dalam keadaan kotor karena kencingnya selalu mengenai pakaian shalat.
* Mengetahui ada seorang Yahudi yang sedang disiksa dalam kuburnya.
* Meramalkan seorang istrinya ada yang akan menunggangi unta merah, dan disekitarnya ada banyak anjing yang menggonggong dan orang tewas. Hal itu terbukti pada Aisyah pada saat Perang Jamal di wilayah Hawwab yang mengalami kejadian yang diramalkan Muhammad SAW.
* Meramalkan istrinya yang paling rajin bersedekah akan meninggal tidak lama setelahnya dan terbukti dengan meninggalnya Zainab yang dikenal rajin bersedekah tidak lama setelah kematian Muhammad SAW.
* Meramalkan Abdullah bin Abbas akan menjadi “bapak para khalifah” yang terbukti pada keturunah Abdullah bin Abbas yang menjadi raja-raja kekhalifahan Abbasiyah selama 500 tahun.
* Meramalkan umatnya akan terpecah belah menjadi 73 golongan.
Mukjizat terbesar
* Membelah bulan dua kali untuk membuktikan kenabiannya pada penduduk Mekkah.
* Isra ke Masjidil Aqsa dari Masjidil Haram lalu Mi’raj ke Sidratul Muntaha dari Baitul Maqdis tidak sampai satu malam pada tanggal 27 Rajab tahun 11 Hijriah.
* Menerima Al-Qur’an sebagai Firman Tuhan terakhir padahal ia seorang yang buta huruf.
Tapi harap di ingat jika mukjizat dalam artikel di atas belum lengkap dibanding apa yg tertulis dalam kitab hadist yg lengkap & jumlahnya menjumpai 300 kisah mukjizat dari Rasulullah Muhammad SAW baik yg serupa ataupun lainnya.
Tujuan pembuktian ini bukan acuan pada mukjizat di atas, tetapi pada Qur’an sebagai Firman ALLAH & mengapa disebut Mukjizat terbesar sepanjang masa. Terima kasih kepada yang menyampaikan ilmu ini kepada penulis. Semoga bermanfaat :-)

A true muslimah : never forget that Islam, which encourages her to look attractive under the permitted limits, is also the religion that's warns her against extravagance ^_^

Hukum Mempercayai Azab Kubur

Penulis : Nurul Fatihah Shahronizam Masa : 21:49 Komen : 0 Tag :

Sebut saja fasal mati mesti ramai yang takut mesti terbayang alam akhirat dan yang paling menggerunkan azab kubur masyallah hanya Allah sahaja yang tahu.Sebelum Nurul pergi lebih jauh marilah kita bersama-sama kita sedekahkan Al-Fatihah kepada semua arwah umat Islam semoga roh mereka dicucuri rahmat amin

(Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)
Perkataan azab bererti hukuman, seksaan, kesengsaraan atau kesusahan. Manakala perkataan kubur pula bermaksud tempat menanam mayat. Jika disebutkan perkuburan bermakna tanah lapang atau kawasan tempat menguburkan orang yang telah mati atau permakaman.

Mayat sama ada ditanam, ditenggelamkan, terbakar jadi debu atau dimakan binatang; mereka disebut berada di alam barzakh. Maka pengertian kubur yang dikaitkan dengan kesenangan atau azab ialah alam kubur yang berada di antara alam kehidupan dunia dengan alam akhirat iaitu alam barzakh.
Alam Barzakh
Barzakh bermaksud rintangan atau pemisahan. Alam barzakh ialah alam pertama daripada alam yang kekal abadi di akhirat. Semua orang yang berada di dalam kubur dinamakan hidup di alam barzakh.
Alam ini berada di antara mati dan bangkit daripada mati. Apabila berada di dalam kubur, kita akan disoal oleh dua malaikat yang bernama Munkar dan Nakir mengenai amalan yang dilakukan semasa hidup di dunia. (Ensiklopedia Isam: 3/8-9)
Pengarang kitab Mu‘jam Alfaz as-Shawfiyah menyatakan perkataan barzakh dari sudut bahasa ialah sekatan atau pemisah di antara dua sesuatu seperti bercakap adalah pemisah di antara manusia dengan binatang. Firman Allah Ta‘ala:
Tafsirnya: “Ia biarkan air dua laut (yang masin dan yang tawar) mengalir, sedang keduanya pula bertemu. Di antara keduanya ada penyekat yang memisahkannya, masing-masing tidak melampaui sempadannya“ (Surah ar-Rahman: 19-20)
Barzakh dari sudut istilah pula ialah pendinding (hijab) yang terdapat di antara orang mati dan orang hidup. Pendinding inilah yang menghalang orang mati kembali ke dunia. Barzakh (pendinding) ini akan kekal sehingga hari Kiamat.
Jadi alam barzakh ialah alam yang terdapat di antara dunia dan akhirat. Alam ini boleh dikatakan sebagai tempat sementara penghuni dunia untuk sampai ke hari Kiamat.
Menurut al-Qurtubi ketika menafsirkan firman Allah Ta‘ala:
Tafsirnya: “… Sedang di hadapan mereka ada alam barzakh (yang mereka tinggal tetap padanya) hingga hari mereka dibangkitkan semula (pada hari kiamat)”(Surah al-Mukminun: 100)
Beliau menjelaskan bahawa barzakh itu ialah alam di antara kematian dan kebangkitan. (Tafsir al-Qurtubi: 6/113)
Pengarang kitab Akidah al-Mukmin pula menyatakan tujuan wujudnya alam barzakh ialah untuk menghimpunkan semua roh dan bersiap sedia memasuki alam akhirat. Dengan kedudukannya yang seperti itu, maka alam barzakh berfungsi sebagai pendinding atau pemisah di antara dua kehidupan lain iaitu kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Dengan perkataan lain, alam barzakh ialah alam penantian atau ruang menunggu untuk masuk ke alam akhirat selepas kematian. (Halaman 409-501)
Dalil-Dalil Yang Menyatakan Azab Kubur Dalam Al-Qur’an
Pensabitan azab kubur di dalam al-Qur’an telah dijelaskan oleh para ulama tafsir yang muktabar lagi masyhor. Mereka itu termasuklah Imam al-Qurtubi, Ibnu Kathir, Imam Muhammad ar-Razi Fakhr al-Din dan lain-lainnya menyebut perkara tersebut dan kewajipan beriman dengannya di dalam kitab-kitab mereka.
Ayat-ayat al-Qur’an yang menjadi bukti wujudnya azab kubur antaranya ialah:
1. Firman Allah Ta‘ala:
Tafsirnya: “Dan sesiapa yang berpaling ingkar daripada ingatan dan pertunjuk-Ku, maka sesungguhnya adalah kehidupan yang sempit, dan Kami akan himpunkan dia pada hari Kiamat dalam keadaan buta” (Surah Taha: 124)
Menurut Abu Sa‘id al-Khudri dan Abdullah bin Mas‘ud Radhdiallahu ‘anhum perkataan ضنكا (yang sempit) adalah azab kubur. Inilah pendapat yang shahih. Telah disebutkan dalam kitab at-Tazkirah, Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu telah berkata:
“Disempitkan kubur orang kafir itu sehingga tulang-tulang berselisih”. (At-Tazkirah: 151-152 & al-Qurtubi: 6/3307)
2. Firman Allah Ta`ala:
Tafsirnya: “Mereka didedahkan kepada bahan api neraka pada waktu pagi dan petang (semasa mereka berada dalam alam Barzakh) dan pada hari berlakunya kiamat (diperintahkan kepada malaikat): “Masukkanlah Firaun dan pengikut-pengikutnya ke dalam azab seksa api neraka yang seberat-beratnya”. (Surah Ghafir: 46)
Ayat di atas menceritakan tentang berlakunya pendedahan bahan-bahan api neraka di alam barzakh. Perkara ini bertepatan dengan pendapat jumhur ulama sebagaimana yang dinyatakan oleh Imam al-Qurtubi bahawa bahan-bahan api neraka yang didedahkan pada waktu pagi dan petang itu berlaku di alam barzakh. Sebahagian ahli ilmu pula menjadikan ayat di atas sebagai dalil sabitnya azab kubur. Pendapat ini disepakati oleh Mujahid, ‘Akramah, Muqatil dan Muhammad bin Ka‘ab. Mereka mengatakan bahawa ayat di atas adalah dalil yang menunjukkan bahawa azab kubur itu berlaku di alam barzakh. (Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an, al-Qurtubi: 8/4415-4416)
Imam Ibn Kathir ad-Dimsyaqi menyatakan bahawa Ahli Sunnah menjadikan ayat di atas sebagai dalil yang kukuh berlakunya azab kubur di alam barzakh. Beliau berkata:
Maksudnya: “Ayat ini adalah sebenar-benar sumber mengenai pensabitan Ahli Sunnah terhadap berlakunya azab kubur di alam barzakh”.
3. Firman Allah Ta‘ala:
Tafsirnya: “Mereka ditenggelamkan (dengan bah taufan), kemudian (pada hari akhirat) dimasukkan ke dalam neraka” (Surah Nuh: 25)
Al-Qurtubi menafsirkan perkataan “dimasukkan ke dalam api neraka” iaitu selepas mereka (kaum Nabi Nuh ‘alaihisalam) ditenggelamkan. Berkata al-Qusyairi:
Maksudnya: “Inilah bukti (berlakunya) azab kubur (yang berlaku ke atas kaum Nabi Nuh ‘alaihisalam, ditenggelamkan dengan bah taufan dan pada hari akhirat dimasukkan ke dalam api neraka)”
Dengan perkataan lain sebagaimana riwayat Abu Rauq daripada ad-Dahak bahawa di dunia mereka diazab dengan api neraka sekaligus ditenggelamkan. Yakni mereka ditenggelamkan pada satu sudut dan pada sudut yang lain mereka dibakar di dalam air lautan. (Al-Qurtubi: 9/5187-5188)
Imam an-Nasafi menjelaskan bahawa mereka kaum Nabi Nuh ‘alaihisalam ditengelamkan dengan bah taufan dan dimasukkan ke dalam api neraka disebabkan oleh kesalahan-kesalahan mereka yang banyak. Huruf fa’ dalam ayat ialah )untuk pemberitahuan) iaitu mereka diazab dengan api neraka ketika ditenggelamkan. Inilah dalil dan bukti wujudnya dan sabitnya azab kubur. (Tafsir An-Nasafi: 4/297)
4. Firman Allah Ta‘ala:
Tafsirnya: “Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan beroleh azab seksa selain daripada azab yang tersebut”. (Surah At-Thuur: 47)
Al-Qurtubi menjelaskan dalam tafsirnya bahawa azab itu adalah azab kubur. (At-Tazkirah fi Ahwal al-Mauta wa Umur al-Akhirat: 152 & Al-Qurtubi: 9/4786). Ini kerana Allah Ta‘ala telah berfirman:
Tafsirnya: “(Kalau keingkaran dan kedegilan mereka sampai begitu sekali) maka biarkanlah mereka (wahai Muhammad, dan janganlah dihiraukan) sehingga mereka menemui hari yang padanya mereka akan binasa”. (Surah At-Thuur: 45)
Menurut beliau (at-Qurtubi) hari yang dimaksudkan dalam ayat di atas ialah hari terakhir di dunia. Ini adalah bukti bahawa azab yang dihadapi (di dunia) itu ialah azab kubur. (At-Tazkirah: 152)
5. Firman Allah Ta‘ala:
Tafsirnya: “Kamu telah dilalaikan (daripada mengerjakan amal bakti) oleh perbuatan berlumba-lumba untuk mendapat dengan sebanyak-banyaknya (hartabenda, anak pinak, pangkat dan pengaruh). Sehingga kamu masuk kubur. Jangan sekali-kali (bersikap demikian) kamu akan mengetahui kelak (akibatnya yang buruk semasa hendak mati)”. Sekali lagi (diingatkan): Jangan sekali-kali (kamu bersikap demikian! Kamu akan mengetahui kelak (akibatnya yang buruk pada hari Kiamat)! (Surah at-Takathur: 1-3)
Imam al-Qurtubi menyatakan bahawa surah di atas mengandungi perkataan-perkataan tentang azab kubur. Oleh itu beriman dengannya adalah wajib. Inilah pegangan ahli Sunnah wa al-Jama‘ah. (At-Tazkirah: 152 & al-Qurtubi: 10/5540-5541)
Ibnu Jarir at-Tabari pula menjelaskan ayat (sehingga kamu masuk kubur) sebagai dalil atau bukti keshahihan wujudnya azab kubur. Perkara ini disebut dalam beberapa riwayat, antaranya riwayat daripada Zirru bin Hubaisy, daripada Ali Radhiallahu ‘anhu katanya: “Kami masih ragu tentang azab kubur, lalu turunlah surah at-Takathur “. (Jami‘ al-Bayan li Ibn Jarir at-Tabari: 15/362)
Hadis-Hadis Yang Menunjukkan Sabitnya Azab Kubur
Berita dan khabar yang dibawa oleh Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam bersumber daripada wahyu Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Oleh kerana itu, setiap hamba Allah Ta‘ala wajib mempercayainya dan beriman dengannya. Inilah i`ktiqad orang-orang Islam.
Maka banyak hadis-hadis shahih yang diriwayatkan oleh periwayat-periwayat hadis yang masyhur seperti al-Bukhari dan Muslim secara terang-terang menyebutkan tentang sabitnya kewujudan azab kubur, antaranya:
1. Riwayat daripada Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhuma, katanya:
Maksudnya: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melalui dua buah kubur. Lalu Baginda bersabda: “Sesungguhnya kedua-dua mayat ini sedang diazab dan bukanlah kedua-duanya diazab sebab dosa yang terlalu besar. Adapun salah seorangnya tidak bersuci daripada kencing dan yang seorang lagi kerana berjalan ke sana ke mari mengadu-domba. Lalu Baginda mengambil pelepah tamar yang basah dan dipatahkan kepada dua bahagian. Kemudian Baginda pacakkan ke atas setiap kubur tersebut. Mereka (sahabat-sahabat) bertanya: “Mengapa Tuan berbuat demikian? Baginda menjawab dan bersabda: “Mudah-mudahan diringankan azab kedua-dua mayat ini selama mana kedua pelepah ini belum kering”. (Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim)
2. Daripada Aisyah Radhiallahu ‘anha telah berkata:
“Telah datang kepada ku dua orang tua Yahudi Madinah sambil berkata: Maksudnya: “Sesungguhnya ahli kubur itu diazab dalam kubur-kubur mereka. Aisyah Radhiallahu ‘anha menjawab: “Kamu berdua berbohong dan aku tidak mempercayai kamu lalu kedua orang tua Yahudi itu pun keluar. Tatkala masuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, aku bertanya kepada Baginda: “Ya Rasulallah! Sesungguhnya dua orang tua Yahudi Madinah telah berjumpa aku dan keduanya menyangka bahawa ahli kubur itu diazab di dalam kubur-kubur mereka.
Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam: “Benar kata-kata kedua orang Yahudi itu, sesungguhnya mayat-mayat itu diazab sehingga didengar akannya oleh sekalian binatang. (Aisyah Radhiallahu ‘anha) berkata: “Aku tidak melihat Baginda selepas sembahyang kecuali (berdoa) memohon perlindungan daripada azab kubur”.(Hadis riwayat Muslim dan al-Bukhari)
3. Daripada riwayat Abi Ayyub katanya:
Maksudnya: “Pada suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam keluar selepas matahari terbenam. Lalu Baginda mendengar suara. Baginda bersabda: “Mayat Yahudi itu diazab di dalam kuburnya” (Hadis riwayat Muslim dan al-Bukhari)
4. Daripada Ibnu Umar Radhiallahu ‘anhuma:
Maksudnya: “Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya mayat itu diazab disebabkan oleh ratapan orang-orang yang hidup”(Hadis riwayat al-Bukhari)
5. Dalam riwayat Imam Muslim:
Maksudnya: “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bahawa mayat itu diazab kerana ratapan keluarga ke atasnya”. (Hadis riwayat Muslim)
6. Daripada Zaid bin Sabit menceritakan ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melintasi beberapa kubur, Baginda bersabda:
Maksudnya: “Siapa yang mengetahui mayat-mayat di kuburkan ini? Seorang Lelaki menjawab: “Saya”. Baginda bertanya: “Bilakah mereka mati? Lelaki itu menjawab: “Mereka mati ketika dalam kafir”.Baginda bersabda: “Sesungguhnya umat ini akan dicuba di dalam kuburnya. Jika tidak kerana kamu tanamkan (mayat-mayat) ini nescaya aku memohon kepada Allah supaya kamu diperdengarkan daripada azab kubur sebagaimana aku dengar daripada kubur-kubur ini. Kemudian Baginda menghadapkan wajahnya kepada kami dan bersabda: “Berlindunglah kamu kepada Allah daripada azab neraka”. Mereka berkata: “Kami berlindung dengan Allah daripada azab api neraka”. Baginda bersabda: “Berlindunglah kamu kepada Allah daripada azab kubur”. Mereka berkata: “Kami berlindung dengan Allah daripada azab kubur”… (Hadis riwayat Muslim)
Maka jelas daripada segala hadis yang shahih di atas bahawa azab kubur adalah sabit dan benar dan sekalian umat Islam wajib mempercayainya dan orang yang mengingkarinya pula adalah ditakuti rosak akidahnya.
Al-Imam al-Qadi Ali bin Abi al-‘Izz ad-Dimsyaqi dalam kitab Syarh Thahawiyah berkata: “Dan telah mutawatir segala hadis daripada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tentang sabitnya azab kubur dan nikmatnya serta perkara soal dua malaikat. Maka wajib beriktiqad akan sabitnya yang demikian itu”. (Syarh al-Aqidah at-Thahawiyah: 2/456)
Adakah Azab Kubur Berterusan Atau Sebaliknya?
Ibnu Qayyim al-Jauziyah menyatakan bahawa azab itu ada dua macam iaitu azab yang tetap dan azab yang terputus Azab yang tetap berdasarkan ayat firman Allah Ta‘ala:
Tafsirnya: “Mereka didedahkan kepada bahan api neraka pada waktu pagi dan petang (semasa mereka berada dalam alam Barzakh)”. (Surah Ghafir: 46)
Walau bagaimanapun dengan kehendak Allah Subhanahu wa Ta‘ala azab boleh diringankan berdasarkan beberapa hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Antaranya:
1. Riwayat daripada Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhuma, katanya:
Maksudnya: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melalui dua buah kubur. Lalu Baginda bersabda: “Sesungguhnya kedua-dua mayat ini sedang diazab dan bukanlah kedua-duanya diazab sebab dosa besar yang terlalu besar. Adapun salah seorangnya tidak bersuci daripada kencing dan yang seorang lagi kerana berjalan ke sana ke mari mengadu-domba. Lalu Baginda mengambil pelepah buah tamar yang basah dan dipatahkan kepada dua bahagian. Kemudian Baginda pacakkan ke atas setiap kubur tersebut. Mereka (sahabat-sahabat) bertanya: “Mengapa Tuan berbuat demikian? Baginda menjawab dan bersabda: “Mudah-mudahan diringankan azab kedua-dua mayat ini selama mana kedua pelepah ini belum kering” (Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim)
2. Riwayat daripada Ibnu Umar Radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Maksudnya: “Sesungguhnya apabila seseorang kamu meninggal dunia akan dibentangkan kepadanya tempat duduk pada waktu pagi dan petang. Sekiranya dia ahli syurga maka dia penghuni ahli syurga dan sekiranya dia ahli neraka maka dia adalah penghuni ahli neraka. Lalu dikatakan kepadanya: “Inilah tempat dudukmu sehingga Allah membangkitkan engkau semula di hari Kiamat” (Hadis riwayat Bukhari)
Manakala azab yang putus ialah seseorang yang diazab dengan api neraka pada suatu waktu yang ditentukan kemudian ia dikeluarkan semula daripada azab tersebut. Sebagai contoh seseorang yang diazab disebabkan dosanya kemudian ia dikeluarkan atau diringankan daripada azab tersebut disebabkan oleh doa, pahala sedekah, pahala haji atau pahala bacaan al-Qur’an yang sampai kepada si mati oleh sanak keluarga atau orang lain. Ini sesuai dengan firman Allah Ta‘ala:
Tafsirnya: “Tiada sesiapa yang dapat memberi syafaat (pertolongan) di sisi-Nya melainkan dengan izin-Nya”. (Surah al-Baqarah: 255)
Ibnu Abi ad-Dunia menyebutkan satu cerita Abdullah bin Nafi‘ katanya:
“Telah mati seorang lelaki daripada orang Madinah lalu aku melihat dia seolah-olah sebagai ahli neraka dan dia sangat berdukacita kerana yang demikian itu. Kemudian selepas beberapa ketika aku melihatnya pula seolah-olah sebagai ahli syurga. Lalu aku bertanya: “Tidakkah engkau berkata bahawa engkau tergolong daripada ahli neraka”. Dia menjawab: “Sememangnya begitu (sebagaimana yang aku katakan kepadamu) kecuali setelah dikuburkan bersama-sama kami ini seorang yang salih dan kerananya telah mendapat syafaat seramai empat puluh orang di sekeliling kuburnya dan aku termasuk daripada mereka yang mendapat syafaat itu”.
Inilah ringkasan perkataan Ibnu Qayyim di dalam kitabnya ar-Ruh mengenai persoalan azab kubur itu berterusan atau sebaliknya. (Ar-Ruh: 107-109)
Kedudukan Hadis Ahad Dalam Hujjah
Ada sebahagian orang yang mendakwa bahawa azab kubur tidak sabit kerana hadis-hadis yang mengkhabarkan keshahihan azab kubur adalah hadis Ahad.
Al-‘Allamah al-Kauthari berkata: “… Kemudian memakai hadis Ahad pada dalil hukum syara‘ adalah sabit dan nyata dengan disokong oleh dalil-dalil qath‘i dan pemutus bahawa hadis Ahad memberi ilmu yakin betul benar isi kandungannya tiadalah ada ragu-ragu padanya walau pun ia dinamakan hadis Tunggal (Ahad), bagaimana telah ditegaskan oleh al-Imam Abul Hasan al-Karkhi dan as-Sam‘aani dalam kitab al-Qawathi‘, al-Imam al-Ghazali dalam kitab al-Mustashfa dan al-Imam Abul Aziz al-Bukhari dalam kitab Syarh Ushul Fakhrul Islam. (Fatwa Mufti Kerajaan: 4/90 (Fatwa Berturut Bil: 71)
Menurut pengarang kitab al-Aqidah al-Islamiyah wa Ususuha bahawa kebanyakan hadis-hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang sampai kepada kita ialah menerusi jalan Ahad. Jika hadisnya shahih, ia membawa ilmu zanni kepada periwayatannya. Ini memberi faedah bahawa ia difahami pasti datang daripada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, tetapi tidak seperti akidah kita kepada mutawatir. Walaupun begitu, sesetengah hadis Ahad yang mengandungi persoalan akidah ada yang diterima umat Islam pada zaman awal Islam dengan penerimaan sepenuhnya tanpa bantahan. Hadis Ahad seperti ini meningkat ke taraf “riwayat mutawatir” dengan mengambil kira kandungannya telah diambil dan diterima pakai umat Islam tanpa bantahan. Dengan itu hadis Ahad seperti ini jadilah “mutawatir makna”, dan dari itu pula ia membawa faedah yang sama pada riwayat “mutawatir lafzi”. (Abdul Rahman Hanakah al-Midani: h.37)
Imam Syafi‘e Rahimahullah telah mensabitkan bolehnya berhujjah dengan hadis Ahad sebagaimana terdapat banyak tempat di dalam kitab-kitab beliau khasnya ketika dalam perbahasan atau munazzah. Hadis Ahad dipakai beliau apabila hujjah yang diperlukan tidak dijumpai dalam al-Qur’an, sunnah dan ijmak atau yang semakna dengannya”. (Ar-Risalah: 596-598 & Abu Zuhrah, as-Syafi‘e: 308)
Al-Baqilani pula berkata: “Adalah wajib mengamalkan hadis Ahad jika perawinya bersifat adil dan tidak bertentangan dengan nas yang lebih kuat daripadanya …” (al-Baqilani, At-Tamhid: 164)
Penutup
Berdasarkan fakta atau hujah daripada al-Qur’an, sunnah dan perkataan ulama adalah sabit wujudnya azab kubur. Al-Imam al-Qadi Ali bin Al-‘Izz ad-Dimsyaqi dalam kitab Syarh al-Akidah at-Thahawiyah menyebutkan bahawa telah mutawatir segala hadis daripada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pada sabitnya azab kubur dan nikmatnya serta soal dua malaikat. Maka wajib beriktiqad akan sabitnya yang demikian dan beriman dengannya. Janganlah kita persoalkan atau bercakap mengenai kaifiyah (caranya) kerana akal tidak akan berhenti pada memikirkannya”. (Syarh al-Akidah at-Thahawiyah: 456)
Imam Abu Hanifah pula menyebutkan di dalam kitabnya al-Fiqh al-Akbar bahawa sempitnya kubur dan azab kubur itu adalah benar kepada mayat kafir sekaliannya dan sebahagian daripada yang derhaka daripada orang-orang yang beriman. (al-Fiqh al-Akbar: )
Maka ada pula dakwaan sesetengah penganut agama dan fahaman yang menyeleweng yang menyangka apabila jasad manusia dibakar dengan api sehingga menjadi abu atau ditenggelamkan ke dasar laut, jasad itu terlepas daripada azab barzakh iaitu azab kubur. Perkara ini telah disangkal dan ditolak oleh Al-Imam al-Qadi Ali bin Al-‘Izz ad-Dimsyaqi dalam kitab Syarh al-Akidah at-Thahawiyah katanya:
“Dan ketahui olehmu bahawa azab kubur itu adalah azab barzakh. Maka sesiapa yang telah mati adalah berhak bagi azab yang tertentu ke atasnya sama ada dikuburkan atau tidak dikuburkan, yang memakan akan dia oleh binatang buas atau hangus terbakar sampai menjadi abu dan diterbangkan ke udara, atau disalib atau tenggelam di laut, nescaya sampailah kepada roh dan jasadnya daripada azab sebagaimana yang sampai kepada mayat yang dikuburkan”. (Syarh al-Akidah at-Thahawiyah: 457)
Dari hujjah dan keterangan ini, maka tertolaklah segala pendapat dan anggapan orang yang mengingkari azab kubur sebagaimana pada akhir-akhir ini turut menyaksikan adanya pendapat dan anggapan yang sedemikian daripada penulis-penulis yang bertopengkan Islam tetapi sebenarnya mengingkari ajaran Islam.

p/s : Marilah kita menginsafi segala dosa-dosa yang pernah kita lakukan di atas muka bumi ini 

A true muslimah : never forget that Islam, which encourages her to look attractive under the permitted limits, is also the religion that's warns her against extravagance ^_^